Natal Dan Revolusi Mental
grid.id
Masa depan sebuah bangsa sangat tergantung pada bangsa
itu sendiri. Seperti pepatah mengatakan Tuhan tidak akan mengubah nasib
seseorang atau suatu bangsa jika orang atau bangsa itu sendiri tidak berusaha
mengubahnya. Dalam hal ini keinginan kita untuk berubah total adalah hal yang
ditunggu oleh Allah Bapa, Anak, Dan Roh Kudus. Allah Bapa yang sangat baik
dengan penuh kasih mengutus anaknya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia,
agar orang yang percaya KepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal
dan demi membangun hubungan dengan Ciptaannya harus kita pahami bahwa merupakan
anugrah terbesar yang diperoleh oleh umat manusia. Kita sebagai ciptaan yang
paling mulia dan paling tinggi derajatnya dari makhluk lain. Bagaimana manusia
memaknai, memahami, ataupun merespon anugrah yang tidak ternilai ini?
Tuhan menginginkan kita untuk bertobat dan mengucap
syukur atas segala anugerah yang diberikannya. Hal ini merupakan hal yang tidak
terlalu sulit untuk kita lakukan. Kebaikan yang kita lakukan tentu
akan membuahkan hasil yang berharga kedepan. Kebaikan Tuhan yang selalu
menuntun manusia untuk berperilaku yang sesuai dengan Firmannya merupakan wujud
kepedulian dan kasih Tuhan yang besar buat Ciptaannya.
Memaknai kelahiran Tuhan Yesus di bulan ini harus
benar-benar menyentuh batin kita. Perayaan Natal ini harus memberikan kita
sebuah makna yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Untuk
itu, dalam merayakan Natal, kita harus kembali diingatkan tentang makna kelahiran
Yesus yang sesungguhnya. Yesus lahir sebagai anugrah terbesar (Yoh. 1: 16) dari
Allah Bapa untuk Manusia. Maka dari itu:
1.
Kita
harus menjadikan Natal ini bukan hanya mengedepankan ritual dan seremonial saja
melainkan harus memberikan kita sebuah makna yang sarat dengan nilai-nilai
kemanusiaan yang universal.
2.
Kita
harus menjadikan Natal sebagai momentum yang tepat untuk melakukan intropeksi
diri tentang perjalanan hidup kita sebagai pribadi, sebagai bangsa, serta
sebagai ciptaanNya yang paling tinggi derajatnya.
Pertanyaan untuk kita, bagaimana perilaku dan tindakan
kita selama ini? Apakah sudah baik atau tidak? Pertanyaan ini perlu kita
renungkan, kita pahami dan kita jawab. Seperti yang kita ketahui bahwa masalah
kebangsaan yang kita hadapi saat ini sangatlah besar.
Kalau bisa dibilang, bangsa kita saat ini menghadapi
persoalan yang sangat kompleks sebagai sebuah bangsa. Mulai dari korupsi,
kerusakan lingkungan hidup, pendidikan yang kurang bermutu, angka pengangguran
yang sangat besar, penyakit sosial dan berbagai problematika lainnya merupakan
konsekuensi dari rendahnya moral dan etika masyarakat bahkan pengelola negara.
Tidak bisa juga kita pungkiri, etika dan moral
pengelola negara dam masyarakat yang rendah menjadi fenomena yang tak berkarakter.
Dimana-mana masyarakat kita lihat begitu gampang membuang sampah sembarangan,
masyarakat begitu gampang menerobos lampu merah, masyarakat bermental instan,
masyarakat tidak peduli dengan sekitar dan lingkungannya. Semua ini memberikan
gambaran bahwa perilaku kita selama ini yang tidak bermoral, tidak beretika
atau lebih jelasnya tidak berkarakter. Seharusnya masyarakat itu kritis dan
sebagai kekuatan penyeimbang yang bisa menyadarkan saat elit politik kehilangan
pedoman dan norma. Tetapi, apatisme masyarakat yang tinggi dan mental instan
masyarakat telah ikut mendorong negara kita jatuh lebih dalam. Bagaimana untuk
bisa bangkit? Kedua-duanya harus disadarkan. Elit politik yang taat pada hukum,
peduli pada masyarakat, dan masyarakat yang sadar dan bertanggung jawab akan
hak dan kewajiban perlu diciptakan bersamaan. Tentu, upaya apa yang bisa
dilakukan untuk memberikan kita kesadaran bersama bahwa jalan yang kita tempuh
selama ini telah salah kaprah sehingga kita bisa mengalami pembaharuan sebagai
warga negara yang sadar akan tanggung jawabnya, dan elit politik
yang tentu juga punya tanggung jawab yang sangat besar.
Kalau kita lihat proses berbangsa dan bernegara yang sedang
kita jalankan saat ini, simbol-simbol agama sangat kuat. Lihat dalam pelantikan
semua anggota DPR mereka bersumpah dan berjanji atas nama Tuhan dan bangsa,
pada saat pelantikan pejabat dari berbagai lini, mereka juga diambil sumpah
jabatan atas nama Tuhan. Terbiasa menyebut nama Tuhan tanpa ada rasa bersalah
jika melakukan penyimpangan merupakan budaya di negara ini.
Jadi natal di tahun ini, saya berharap supaya kita
secara pribadi berkaca, bagaimana sebenarnya perilaku kita selama ini dan mari
jangan malu untuk memulai hidup yang lebih baik, bermoral sebagaimana manusia
yang terdidik, demi ketentraman kita bersama.
Terakhir kata saya mengucapkan selamat hari Natal dan
Tahun Baru di Tahun 2019, semoga bermanfaat, Terima Kasih…


Post a Comment for "Natal Dan Revolusi Mental"
Berikan komentar Anda dan bagikan ke teman" Anda!