Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teruntuk Nenekku Tersayang, Yang Kini Telah Bahagia di Surga

 Follow my IG : sugitagirsang


Halo Nek, apa kabar?

Sudah lama kita tak bersua.

Apa nenek baik-baik saja disana? Sudah hilangkah semua rasa sakitmu? Apakah masih sama ketika sedang bercanda gurau denganku tahun lalu? Aku sangat berharap engkau sedang tersenyum menatapku sembari ditemani para malaikat surga.

Terkadang aku teringat semua kenangan yang ada bersamamu, yang selalu memberikan petunjuk atau nasihat kepadaku dan juga adik-adikku. Rindu juga dengan candaan ringan yang selalu kami lontarkan pada nenek yang membuat engkau tersenyum. Sungguh, harapanku yang telah kusampaikan padamu bahwa engkau masih melihat ketika aku menikah namun itu tak terjadi, hanya saja aku tetap berharap engkau tetap melihatku dengan penuh kegembiraan saat aku menikah nanti. Ah, aku berpikir juga, bahwa ini adalah kehendak Tuhan, bahwa tugasmu telah selesai di dunia.

Nek, apakah engkau masih mengingat ketika aku masih SD yang setiap pulang sekolah pasti akan pergi keladangmu, mengambil biji kopi. Engkau berkata, ambil kopi untukmu trus.. kamu bersihkan, lalu jual, uangnya bisa kamu masukkan celengan, nanti kalo sudah banyak uangmu, bisa kau beli bajumu.

Sayur yang sering kita rebus lalu ditambah dengan cabe tomat giling menjadi kesukaan kita. Apalagi sayur kol yang menjadi kesukaanku saat itu. Semua makanan terasa enak ketika makan bersamamu. Nenek adalah bagian penting dari masa kecilku bahkan hingga dewasa. Aku masih ingat bagaimana dulu kita sering menghabiskan waktu. Ah, betapa indahnya masa itu, masa ketika aku bisa bersama nenek dan kakek.

Namun, ketika aku beranjak remaja dan dewasa, mulai sibuk dengan duniaku sendiri. Akupun tidak sebegitu sering bercengkrama denganmu. Ketika masa kuliah, setiap aku pulang kampung engkau selalu memberikan nasihat-nasihat, lalu engkau juga selalu merencanakan dan membuat makanan khas orang simalungun yang kita santap satu keluarga. Momen-momen itu sangat luar biasa dan tak terlupakan.

Setiap mau berangkat kembali ke perantauan, engkau pasti selalu memberikan uang saku padaku, mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan. “Jaga kesehatanmu ya, apapun ceritanya sehat itu penting sekali”.

Nasihat-nasihatmu itu Nek, sampai saat ini tetap aku jalankan dan selalu aku ingat. Mungkin bila aku banyak salah, maafkan aku nek. Hari itu akhirnya tiba, hari dimana kesehatan nenek mulai menurun dan hanya bisa tergolek diatas pembaringan. Aku tidak pernah mengharapkan hari itu akan tiba di hidupku. Ya, hari dimana kesehatan nenek mulai menurun. Nenek lebih banyak tergolek lemah di atas pembaringan. Bahkan, aku, adik-adikku, ayah, ibu, bapak uda dan yang lainnya mesti berada di samping kasur untuk bisa bercengkrama denganmu.

Saat-saat itu aku berdoa supaya engkau bisa sembuh dan bisa lagi seperti semula yang selalu mampu membawa keceriaan saat kumpul keluarga. Momen-momen bahagia menjadi impian untuk terulang kembali. Namun, sekarang hanya rasa sedih bercampur bahagia. Sedih karena nenek telah meninggalkan kami, tidak bisa lagi makan dan duduk bercengkrama denganmu. Bahagia karena sakitmu telah sembuh, penderitaanmu telah sirna serta engkau telah bahagia bersamaNya di surga sana.

Tapi asal nenek tahu, kenangan manis bersama nenek akan selalu tersimpan rapi di lingkar kepala dan juga hatiku. Bahkan mungkin, esok akan tiba waktuku berperan sebagai seorang kakek, aku berharap bisa mencontoh dirimu. Ya, aku belajar banyak dari nenek, belajar untuk menerima dan mencintai dengan tulus.

Nek, mungkin sekalipun aku belum mengatakan aku mengagumimu, tapi aku benar-benar mengagumimu. Aku sungguh menyayangimu.

Dariku,

Cucumu yang amat merindu…

 

2 comments for "Teruntuk Nenekku Tersayang, Yang Kini Telah Bahagia di Surga "