CERPEN: Salah Pikir
Disebuah desa terpencil hiduplah sepasang suami istri yang telah dikaruniai 3 (tiga) orang anak. Si Suami namanya Kang Dadang, si istri namanya Larasati. Nama dari 3 (tiga) anak mereka, yang paling sulung laki-laki namanya Budi, yang kedua anak laki-laki juga namanya Dimas dan anak yang terakhir atau sibungsu perempuan namanya Wulan.
Kehidupan mereka sangat sederhana namun diwarnai dengan kasih sayang yang luar biasa. Si Suami pekerjaannya bersawah dan si istri ikut membantu suami bersawah. Tiap hari mereka lalui hari-hari tanpa ada hal yang sangat berbeda, hidupnya hanya dua tempat, kalo tidak kesawah ya kerumah. Tapi si suami punya hobi mancing ikan di sungai, biasanya setelah membajak sawah, di sore hari Kang Dadang selalu menyempatkan waktu untuk memancing ikan di sungai untuk di goreng, digulai dan terkadang diarsik oleh si istri tercinta (Larasati).
Budi anak mereka yang pertama masih kelas 6 (enam) SD, Dimas kelas 3 (tiga) SD dan Wulan Kelas 1 (Satu) SD. Budi anak yang baik dan hormat pada kedua orang tuanya dan selalu menjaga adik-adiknya. Begitu juga dengan Dimas juga baik dan hormat pada abang dan orangtuanya, serta beruntungnya juga Wulan adalah putri yang sangat baik, imut, cerdas dan sangat menghormati ayah dan ibunya.
Setiap kali Kang Dadang habis mancing, Si bungsu Wulan selalu menunggu ayah nya di depan pintu untuk menyambutnya,, "horee papa pulang, mana ikannya yah.. ucap Wulan" Sang Ayah, Kang Dadang, "ini boruku...papa dapat dua tadi, ikan mas loo, besar-besar lagii, ucap Kang Dadang sambil senyum bahagia liat putrinya yang sangat senang. Dimas: mana-mana ikannya, aku pengen liat sambil berlari dari kamar, begitupun si Sulung (Budi) sambil berjalan mengikuti Dimas dari belakang melihat ikan hasil pancingan sang ayah tercinta. Si ibu (Larasati) sudah siap-siap di dapur menggiling bumbu ikan hasil pancingan sang suami. Insting yang kuat membuat dia begitu yakin bahwa suaminya Kang Dadang pasti dapat hasil pancingan, tanpa ragu Larasati telah mempersiapkan segala bumbu di dapur. Sungguh istri yang sangat baik.
Akhirnya kedua ikan mas hasil pancingan Kang Dadang pun dimasak, satu digoreng dan satu lagi diarsik. Karena pada waktu itu angin sedikit lebih kencang dari biasanya, aroma masakan Larasati pun tercium Kang Dadang dari kamar tengah, Kang Dadang bergegas ke dapur sambil berkata.., "uhh.. aromanya...sedap sekali, emang masakanmu selalu yang paling istimewa yang sayang, sambil memeluk Larasati dari belakang" Ih meluk-meluk...klo dah kek gini pasti ada maunya nihh..sahut Larasati", Kang Dadang berkata, kan sesekali biar romantis loh sayang", kan minggu ini aku belum ada meluk kamu", oh iya-iya kata Larasati, tapikan ini didapur, eh ini udah matang nih, kita makan dulu aku dah laper banget sambil memanggil anak-anak ayok makan, (disiapin semuanya, nasi, teh dll, akhirnyapun mereka makan).
Kang Dadang melihat istrinya ketika makan dan berkata dalam hati "Istriku ini setiap kali makan selalu kepala ikan yang diambilnya yaa, tak pernah ambil yang bagian tengah atau ekornya, mungkin dia sangat suka sekali yaa kepala ikan, eh dua hari lagi kan ulang tahun istriku, apa yaa, yang bisa aku kasih sama dia?" Sambil makan dilanjutkan pikiran bertanya-tanya terus mau ngasih apa kado ulang tahun Larasati (sang istri pujaan hati). Si bungsu berkata, ma.. iya nakku... knp tuh? masakan mama enak sekaliiiii, Dimas pun berkata, iya maa...enak kali masakan mama, pokoknya nomor satu deh". Budi pun ikut menyahut dengan mengangkat tangan jempol. Larasati tersenyum bahagia sekali melihat anak-anaknya sangat senang.
Selesailah mereka makan, Budi langsung berkata, ma...aku langsung belajar dulu yaa, aku juga ma sahut si Dimas, aku ikut......ucap Wulan, iya iyaa sahut Larasati sambil membereskan ruangan makan. Kang Dadang pun kembali melanjutkan aksi yang sudah terhenti, sambil muka-muka senyum dan ngajak Larasati untuk ngobrol dikamar tidur, akhirnya ngobrol-ngobrol... anak-anak bersuara, maa kami udah siap belajar, kami boboklah yaa, iyaa sahut Larasati, dan Larasatipun berkata, "anak-anak sudah pada mau bobok tuh, kita bobo jugalah yaa, capekk, besokkan papa kesawah lagi. Kang Dadang dalam hatinya, "aduhh padahal masih pengen... pengen ngobrol". Akhirnya pun mereka istirahat.
Kukuruyuk-kukuruyuk kicauan ayam jantan dari belakang rumah menandakan sudah jam 5 (lima) pagi, Larasatipun bangun dan langsung ke dapur menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dan sang suami tercinta. Setiap pagi hal inilah yang dilakukan oleh Larasati, sungguh istri yang sangat rajin dan baik sekali. Jam tengah tujuh, anak-anak sudah siap memakai seragam sekolah dan mereka semua sarapan pagi dan Kang Dadang setelah sarapan pagi langsung berangkat mengantar anak-anak kesekolah, sekalian berangkat kesawah karena sekolah anak-anak searah dengan sawah mereka. Tiba disekolah Kang Dadangpun berpesan pada anak-anaknya, jangan nakal disekolah yaa, yang baik belajarnya...mereka serentak menyahut yaaa paa....
Kang Dadang pun teringat bahwa besok adalah ulang tahun istrinya, dalam hatinya bertanya apa yaa kukasih, ohhh dia kan suka sekali makan kepala ikan, ah nanti aku masak aja, setelah dapat hasil dari pancingan. Sorenya setelah bekerja di sawah Kang Dadang pun memancing, beruntungnya dia mendapat 3 (tiga) ekor dan besar-besar, Kang Dadang "emang klo rezeki gak kemana yaa". Setelah mendapat tiga ekor ikan nila, diapun pulang membawanya kerumah seperti biasa untuk dimasak, tiba dirumah, Kang Dadang berkata kepada sang istri, sayang...dua ekor aja masak yaa, kan kalo tiga pun gak habis nanti, kan ini satu lagi masih hidup juga ikannya, buat aja dalam ember yaa, besok dimasak. Larasati menjawab iyaa...paa.
Akhirnya dimasak dua ekor dan seperti biasa mereka makan bersama dengan senang dan meriah lalu mereka tidur. Pada saat itu masih jam 10 (sepuluh) malam. Tiba jam tengah 12 (duabelas) malam, Kang Dadang pun bangun, lalu menyiapkan ikan untuk dimasak, 1 (satu) ekor nila besar, kira" satu setengah kilo beratnya, diapun memotongnya dan memisahkan bagian badan dengan kepalanya, badan sampai ekor digoreng Kang Dadang dipisah dengan kepala. Kepala Nila dimasak berbeda dengan sedemikian rupa, dengan keahlian memasak Kang Dadang, memang aromanya sangat sedappp sekali dan akhirnya matang, tibalah jam menunjukkan 12.02 lalu dia pergi membangunkan anak-anak dan meminta supaya membuat kejutan untuk Larasati. Larasati pun dibawa dari kamar ke ruang makan dengan mata ditutup, Surrrpriseee....penutup mata Larasati dibuka dan dia melihat bahwa kadonya kepala ikan nila dan bertanya kepala nila yaa paa..? iyaa sayang....Wajah Larasati pun sedikit berubah, namun berusaha menampakkan bahagia di depan anak-anak, kemudia anaknyapun bergantian memeluk Larasati sambil mengucapkan, selamat ulang tahun yaa mamaku cantik, yang baik, yang jago masak, panjang umur dan sehat selalu....
Habis acara makan bersama merekapun kembali ke kamar untuk istirahat lagi, tiba sampai dikamar tidur, Larasati berkata, Tega kamu yaa paa, ngasih kepala ikan nila aja, gak ikut lagi badan-badannya, dengan wajah kesal....., Kang Dadangpun menyahut, "kan selama ini papa lihat mama selalu ngambil kepala ikan klo makan, yaa saya pikir mama sangat suka makan kepala ikan, makanya aku siapin masakan spessial kepala ikan nila...., (gak manggil sayang lagi, wkwk) Larasati menjawab "biar papa tau yaa, knapa mama selalu ngambil kapalanya karna klo mama ambil yang bagian dagingnya (tengahnya) buat anak-anak apa paa? kepalanya? tanya Larasati dengan kata yang tegas....Coba papa mikir dong kesitu....
Kang Dadang " Waduhhh Salah Pikir, papa pikir mama suka kepala ikan, papa minta maaf dehh sambil memegang tangan Larasati, maafin papa dong, maafin yaa.. sayang.....
🤣🤣🤣🤣🤣
Nb: Maaf terkait penggunaan nama tidak ada maksud untuk menghina atau mencemarkan nama baik, ini hanya sebuah cerpen yang tujuannya mampu untuk menghibur pembaca...
Salam Sehat...
Post a Comment for "CERPEN: Salah Pikir"
Berikan komentar Anda dan bagikan ke teman" Anda!