Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TAK PERNAH CUKUP

Cukup. Untuk sebagian masyakarat kita, termasuk banyak orang yang paling kaya dan berkuasa, tampaknya tak ada batas "cukup".

Cukup adalah menyadari bahwa yang sebaliknya, nafsu menginginkan lebih yang tak puas-puas, akan mendorong Anda ke titik penyesalan.

Ada ungkapan mengatakan, satu-satunya cara mengetahui seberapa banyak makanan yang Anda bisa makan adalah makan terus sampai muntah. Hanya sedikit yang mencobanya karena muntah lebih sakit dari pada kenikmatan makan. Karena suatu alasan, logika yang sama tak dipakai di bisnis, keuangan, investasi dan banyak yang hanya akan berhenti mencari lebih banyak ketika mereka dipaksa berhenti.



Kita tahu dalam hidup:
Reputasi sangat berharga
Kebebasan sangat berharga.
Keluarga dan sahabat sangat berharga.
Dicintai oleh orang yang Anda inginkan mencintai Anda sangat berharga.
Kesehatan sangat berharga.
Kebahagiaan sangat berharga.
Dan cara terbaik Anda menjaga hal-hal itu adalah mengetahui kapan waktunya berhenti mengambil risiko yang bisa mengancam semuanya. Mengetahui kapan cukup.
Tak pernah cukup sama saja dengan keserakahan, dan keserakahan bisa dibilang merupakan satu di antara dosa mematikan.

Terkadang, Anda tidak menginginkannya hanya karena Anda membutuhkannya, tetapi karena seseorang memilikinya dan Anda juga menginginkannya.
Perbandingan sosial termasuk masalahnya. Pikirkan pemain sepak bola profesional yang baru mulai berkarir, di gaji $ 500.000 per tahun. Dia kaya menurut defenisi apa pun. Namun anggap dia bermain di tim yang sama dengan Lionel Messi, yang punya kontrak 2 tahun nilainya sekitar $ 118 juta. Kalau dibandingkan, si pemain baru seperti orang miskin. Begitu juga bila dibandingkan dengan orang yang lebih kaya seperti Warrent Buffett, yang sebelumnya terlihat kaya akan terlihat seperti orang miskin.

Intinya adalah batas atas perbandingan sosial sangat tinggi sehingga nyaris tak ada yang akan pernah mencapainya. Artinya itu pertempuran yang tak pernah dimenangkan, atau bahwa satu-satunya cara untuk menang adalah tidak bertarung sejak awal, menerima bahwa Anda barangkali sudah punya cukup harta, meski itu lebih sedikit dari pada yang dimiliki orang sekeliling Anda.

Terkadang banyak hal-hal sederhana yang salah kita pahami selama ini. Standar yang kita gunakan hanyalah untuk kepentingan diri sendiri untuk urusan dunia, bahkan kita bisa tak memikirkan orang lain.








  

Post a Comment for "TAK PERNAH CUKUP"