Jika Krisis Serupa Datang Lagi, Poin Penting Seperti Apa yang Mesti di Pelajari?
Entah kapan datangnya, tetapi krisis baru niscaya bisa datang lagi, meski dengan alasan berbeda. Datangnya krisis selalu mengganggu tentang adanya di pasar : Bahwa di dalam jangka panjang, benang merah itu akan menjadi benang hijau yang akan bergerak ke arah Utara.
Krisis, seringkali diawali oleh adanya gangguan likuiditas. Gangguan likuiditas menjadi masalah krusial untuk sektor perbankan, yang karakternya ditandai dengan oleh Funding Gap : short-term liabilities yang dipakai untuk membiayai long-term assets. Gangguan likuiditas yang tidak bisa ditangani dengan cepat, akan berubah menjadi masalah solvabilitas yaitu terancamnya kelangsungan usaha.
Apalagi melihat investor legendaris Warrent Buffett yang baru-baru ini menimbun kas cukup besar USD 277 niliar atau setara Rp 4.485 triliun. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi kas yang dipegang oleh Buffett. Posisi kas sebesar itu menjadi pertanyaan juga apakah dia memprediksi dalam waktu dekat akan terjadi krisis lagi atau apakah memang dia kesulitan dalam menemukan bisnis atau saham dengan harga wajar. Pada kuartal II-2024, perusahaan investasinya Bershire Hathaway menjual saham, termasuk Apple, dengan total nilai USD 75 miliar sementara dia hanya membeli saham USD 345 juta periode tersebut.
Tapi berdasarkan apa yang disampaikan Buffett saat pertemuan tahunan pada Mei lalu, dikutip dari Bloomberg, Selasa (6/8/2024) "Kami tentu senang untuk membelanjakannya (kas). tapi kami tidak akan belanja sampai kami pikir kami mengambil resiko yang rendah sehingga bisa menghasilkan uang yang cukup banyak".
Nah, poin pertanyaan yang penting untuk ditanyakan kali ini, adakah hal-hal yang penting yang dapat kita pelajari dari krisis besar akibat Covid-19 yang terjadi di tahun 2020 yang lalu?
Jika krisis serupa datang lagi, ada baiknya untuk memberikan perhatian yang lebih penting atau prioritas kepada emiten yang menjadi pemimpin di sektor perbankan setiap negara. BBRI dan BBCA merupakan salah satu pemimpin sektor perbankan di Indonesia. UBS, merupakan bank terbesar di Swiss, setelah hilangnya Credit Suisse karena krisis, dan bank-bank ini kita lihat sekarang sudah memiliki capital gain yang lumayan di mulai saat terjadinya krisis tahun 2020 yang lalu.
Koordinasi dan intervensi global, sudah merupakan playbook otoritas moneter dan otoritas fiskal berbagai negara, sejak krisis negara maju tahun 2008. Mereka tidak bisa lagi mentolerir terjadinya gangguan likuiditas sekecil apapun. Oleh karena itu, jika pasar yang memang selalu berlebihan pada saat terjadinya kepanikan dan membuat sektor perbankan tertekan berlebihan, upaya untuk memberi prioritas perhatian kepada pemimpin di sektor perbankan, dapat menjadi pilihan yang baik.

Post a Comment for "Jika Krisis Serupa Datang Lagi, Poin Penting Seperti Apa yang Mesti di Pelajari? "
Berikan komentar Anda dan bagikan ke teman" Anda!