Andai Kata Semua Kehidupan Ini Menyakitkan: Lima Pertanyaan yang Mengubah Hidup
"Andai
kata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti ada sepotong
bagian yang menyenangkan. Kemudian kau akan membenak, pasti ada sesuatu yang
jauh lebih indah dari menatap rembulan di langit. Kau tidak tahu apa itu,
karena ilmumu terbatas, pengetahuanmu terbatas. Kau hanya yakin, bila tidak di
kehidupan ini, suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih memesona dibandingkan
menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar."
— Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Kalimat
pembuka dari novel ini langsung menusuk relung paling dalam. Bukan sekadar
cerita fiksi, Rembulan Tenggelam di Wajahmu terasa seperti cermin yang
dipasang Tuhan untuk kita agar kita berani menatap pertanyaan-pertanyaan paling
tabu dalam hidup.
Novel
ini berkisah tentang Ray (Rehan Raujana), seorang pria yang mendapat kesempatan
langka: melakukan perjalanan ke masa lalu di saat-saat kritisnya di rumah
sakit. Di sana, ia berinteraksi dengan sosok yang bisa disebut malaikat.
Terjadi dialog hebat, tepatnya lima pertanyaan dan lima jawaban. Kelima
jawaban itulah yang menjadi fondasi renungan saya kali ini.
Pertama:
Apakah Kita Tidak Pernah Memiliki Kesempatan Memilih Saat Akan Dilahirkan?
Ada
gadis kecil bernama Rinai. Ia sering menatap langit dengan lirih, mendesah
penuh tanya tentang ayah dan bundanya. Di panti asuhan, Rinai hanya ditemani
boneka beruang tua. Pada malam takbiran, bulir air matanya merekah, menggelayut
di pelupuk mata, membentuk parit di pipi yang amat merindukan pelukan orang
tua. Nasib serupa dialami Ray. Sejak kecil ia tumbuh tanpa mengetahui wajah
kedua orangtuanya. Namun, Ray adalah sosok yang tegas, cerdas, dan pembelajar
ulung—karakter yang membuatnya layak menjadi tokoh utama dalam perjalanan waktu
ini.
Yang
menarik, di akhir cerita ternyata takdir Ray dan Rinai saling terkait. Sebuah
pengingat bahwa Tuhan tidak pernah bekerja secara sia-sia.
Bagian
ini mengajarkan satu hal fundamental: bersyukur. Ada ungkapan dalam
novel yang sangat membekas:
"Yang
perlu kau tahu adalah kau sangat beruntung, Ray. Amat beruntung. Tahukah kau?
Semua orang selalu diberi kesempatan untuk kembali. Sekali sebelum maut
menjemput, sekali sebelum semuanya benar-benar terlambat. Setiap manusia diberi
kesempatan mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal
hidupnya. Tuhan berkenan menemukan dirinya."
Membayangkan
kehidupan Rinai dan Ray saja sudah terasa berat, apalagi menjalaninya. Namun,
di situlah letak pelajaran berharganya: kunci kebahagiaan adalah syukur.
Jika banyak, ia bersyukur. Jika sedikit, ia pun tetap bersyukur. Tak ada celah
bagi kesedihan untuk merenggut jiwa yang lapang.
Saya
pribadi bersyukur atas napas, iman, kesehatan, rezeki, dan kebahagiaan bersama
orang-orang yang saya cintai dan yang mencintai saya. Saya percaya, Tuhan masih
memberi saya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi
sekitar.
Kedua:
Apakah Hidup Ini Adil?
Pertanyaan
ini adalah pertanyaan abadi. Dari zaman batu hingga peradaban digital, dari
muda hingga tua, dari raja hingga rakyat jelata setiap insan setidaknya pernah
sekali melontarkan tanya yang sama. Dalam novel, pertanyaan ini lahir dari
sepucuk koran tua yang menguning, hanya tersisa separuh. Separuh lainnya tetap
menjadi misteri.
Saat
cobaan datang, kita sering kali begitu cepat menjawab, "Hidup ini tidak
adil." Lalu timbul pertanyaan lebih berbahaya: "Apa salahnya
menjadi penjahat?"
Namun,
ada satu bagian yang paling menarik bagi saya, tepat di halaman 192:
"Apakah
hidup ini adil, Ray? Entahlah. Aku juga pernah sekali-dua kali bertanya kepada
Tuhan. Padahal kau tahu, aku memiliki kesempatan untuk melihat wajah keadilan
yang tidak kasatmata. Kita selalu berprasangka buruk. Kita membiarkan hati yang
mengambil alih, menduga-duga. Tidak puas menduga-duga, kita membiarkan hati
mulai menyalahkan. Mengutuk semuanya. Kemudian tega sekali, menjadikan
kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku keliru kita."
Menjawab
pertanyaan ini memang tidak mudah—bukan karena jawabannya tidak ada, melainkan
karena terlalu banyak alasannya. Namun satu hal yang pasti: bentuk keadilan
langit tidak akan pernah kita pahami secara sempurna. Kita hanya perlu
berharap sedikit, memberi banyak, dan siap menerima segala bentuk keadilan
Tuhan dengan hati lapang.
Ketiga:
Apakah Makna Kehilangan?
Ketika
tidak ada rasa cinta dan rasa memiliki, sesungguhnya kita tak akan pernah
kehilangan. Pertanyaan ini sulit dijawab sangat sulit jika kita memaksakan diri
memahaminya dari sisi orang yang ditinggalkan. Namun ia menjadi sederhana jika
kita berani melihat dari sisi yang pergi.
Saya
pertama kali merasakan getaran emosi ini ketika membaca bagian Gerbong Makan
Sejuta Cinta. Di sanalah Ray pertama kali mengenal gadis itu cinta
pertamanya, cinta yang membuat sekujur tubuhnya merinding, cinta pertama
sekaligus cinta terakhir. Ada kalimat yang membuat jantung saya berdegup:
"Dia
menoleh. Dia baru saja menoleh ke arahku. Oh ibu, apa maksudnya? Suara itu
merdu..."
Frasa
"Oh Ibu" menjadi sesuatu yang istimewa dan magis dalam novel
ini.
Namun,
keindahan itu perlahan berubah menjadi duka yang menghancurkan. Di halaman 263,
saya benar-benar terharu. Air mata perlahan mengalir membasahi pipi ketika
membaca kisah istri Ray yang dua kali keguguran, hingga akhirnya kehilangan
sang istri untuk selamanya. Sungguh kesedihan yang amat dalam.
"Orang-orang
yang memiliki tujuan hidup, tahu persis apa yang hendak dicapainya, maka
baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut.
Dan sebaliknya."
"Hanya
orang-orang dengan hati damailah yang boleh menerima kejadian buruk dengan
lega."
— Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Kehilangan
bukanlah akhir. Ia adalah pintu untuk memahami bahwa yang pergi mungkin sedang
menuju kedamaian yang lebih abadi.
Keempat:
Apakah Itu Cinta?
Pada
bagian ini, Tere Liye menyuguhkan metafora yang begitu indah melalui suara
alam:
- Gunung menjawab: "Kecupan
hangat matahari pada pundakku di pagi hari."
- Pesisir menjawab: "Kunjungan
ombak yang tak pernah berhenti menenggelamkan pasirku dengan
kehangatan."
- Danau menjawab: "Cinta
adalah menatap Purnama dari kejauhan, dengan kerinduanku yang terabaikan,
dengan perasaanku yang tak dia inginkan..." Danau terdiam
sebentar, lalu tersenyum. "Namun tetap merasa bahagia karena masih
bisa menyaksikan keindahannya."
— Reza Rusandi
Semua
hal bisa didefinisikan, kecuali cinta. Karena cinta adalah sumber dari segala
definisi. Ia adalah energi utama yang menghidupkan kita. Seperti kata Rocky
Gerung, "Cinta itu energi paling purba dari kehidupan. Nafas mungkin
lebih pendek dari cinta, karena cinta lebih purba dari nafas. Cinta tidak
berakhir saat nafas berhenti."
Ada
pula analogi indah tentang penciptaan perempuan: Perempuan tidak diciptakan
dari tengkorak laki-laki agar berada di atas, juga tidak dari kaki laki-laki
agar diinjak. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk di sisi laki-laki, dekat
dengan hati agar dicintai, dan dekat dengan tangan agar dilindungi.
Bagi
Ray, hidup hanya sekali, mati sekali, maka jatuh cinta hanya sekali. Cintanya
pada istrinya (si Gigi Kelinci) adalah cinta yang membahagiakan. Namun, cinta
dari Gadis Anggrek Putih yang mencintainya sepenuh hati justru menjadi cinta
yang membunuh. Sang anggrek harus layu di waktu dan tempat yang salah.
Kehidupan Ray terasa kosong meski dikelilingi niat tulus dan kehangatan orang
lain.
Satu
hal sederhana namun bermakna dari istri Ray: "Bagiku, kau ikhlas dengan
semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah
cukup." Sederhana, tapi sarat makna.
Kelima:
Kenapa Harus Mengalami Sakit Berkepanjangan Selama Enam Tahun?
Si
Anggrek Putih dari Timur dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Selama
dua tahun, Vin (Anggrek Putih) menghilang tanpa kabar dan ternyata, kesunyian
bisa membunuh. Vin memilih mengubur semua mimpi, harapan, dan cinta yang tak
terbalas, sampai akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Gadis malang yang
menyia-nyiakan masa mudanya.
Enam
tahun setelah kremasi Vin, Ray- yang kini memiliki imperium bisnis menggurita-justru
mulai sakit-sakitan. Serangan jantung, penyakit ginjal, kaki lumpuh, dan mulut
yang membisu. Harta melimpah tak berarti apa-apa ketika raga terus merana. Ray,
yang dulu perkasa, kini tak berdaya dibelit infus dan selang-selang medis.
Di
pertanyaan terakhir inilah sang malaikat memberi jawaban yang menyudahi segala
tanya. Ray akhirnya menemukan pemahaman utuh atas rangkaian takdir yang ia
alami. Roda kehidupannya benar-benar telah berputar.
Saat
Ray menatap rembulan dari puncak Gedung 101 (yang dalam imajinasi saya
tergambar bak Burj Khalifa), ia berbicara kepada alam dan merelakan semua yang
telah terjadi.
Penutup:
Apa Lima Pertanyaanmu?
"Andai
kata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti ada sepotong
bagian yang menyenangkan..."
Novel
ini adalah pengingat bahwa ilmu kita terbatas, pengetahuan kita sempit. Kita
tidak akan pernah mengerti sepenuhnya mengapa sakit, kehilangan, dan
ketidakadilan terjadi. Namun kita yakin jika tidak di kehidupan ini,
maka suatu saat nanti akan ada keindahan yang jauh lebih memesona daripada
sekadar menatap rembulan yang bersinar.
Pantaskah
Tere Liye begitu terkenal? Sangat pantas. Karyanya luar biasa. Fakta menarik:
Tere Liye ternyata adalah nama pena dari Darwis, pria di balik lautan
kata yang mengguncang jiwa.
Sekarang,
coba tutup mata sejenak. Heningkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia. Bayangkan
ada satu malaikat bersayap indah datang menghampiri, lalu berkata lembut: "Aku
memberimu lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku
akan menjawabnya langsung."
Apa
pertanyaanmu?
Post a Comment for "Andai Kata Semua Kehidupan Ini Menyakitkan: Lima Pertanyaan yang Mengubah Hidup"
Berikan komentar Anda dan bagikan ke teman" Anda!