Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Andai Kata Semua Kehidupan Ini Menyakitkan: Lima Pertanyaan yang Mengubah Hidup

 

tiktok.com

"Andai kata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti ada sepotong bagian yang menyenangkan. Kemudian kau akan membenak, pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan di langit. Kau tidak tahu apa itu, karena ilmumu terbatas, pengetahuanmu terbatas. Kau hanya yakin, bila tidak di kehidupan ini, suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih memesona dibandingkan menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar."
— Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Kalimat pembuka dari novel ini langsung menusuk relung paling dalam. Bukan sekadar cerita fiksi, Rembulan Tenggelam di Wajahmu terasa seperti cermin yang dipasang Tuhan untuk kita agar kita berani menatap pertanyaan-pertanyaan paling tabu dalam hidup.

Novel ini berkisah tentang Ray (Rehan Raujana), seorang pria yang mendapat kesempatan langka: melakukan perjalanan ke masa lalu di saat-saat kritisnya di rumah sakit. Di sana, ia berinteraksi dengan sosok yang bisa disebut malaikat. Terjadi dialog hebat, tepatnya lima pertanyaan dan lima jawaban. Kelima jawaban itulah yang menjadi fondasi renungan saya kali ini.

 

Pertama: Apakah Kita Tidak Pernah Memiliki Kesempatan Memilih Saat Akan Dilahirkan?

Ada gadis kecil bernama Rinai. Ia sering menatap langit dengan lirih, mendesah penuh tanya tentang ayah dan bundanya. Di panti asuhan, Rinai hanya ditemani boneka beruang tua. Pada malam takbiran, bulir air matanya merekah, menggelayut di pelupuk mata, membentuk parit di pipi yang amat merindukan pelukan orang tua. Nasib serupa dialami Ray. Sejak kecil ia tumbuh tanpa mengetahui wajah kedua orangtuanya. Namun, Ray adalah sosok yang tegas, cerdas, dan pembelajar ulung—karakter yang membuatnya layak menjadi tokoh utama dalam perjalanan waktu ini.

Yang menarik, di akhir cerita ternyata takdir Ray dan Rinai saling terkait. Sebuah pengingat bahwa Tuhan tidak pernah bekerja secara sia-sia.

Bagian ini mengajarkan satu hal fundamental: bersyukur. Ada ungkapan dalam novel yang sangat membekas:

"Yang perlu kau tahu adalah kau sangat beruntung, Ray. Amat beruntung. Tahukah kau? Semua orang selalu diberi kesempatan untuk kembali. Sekali sebelum maut menjemput, sekali sebelum semuanya benar-benar terlambat. Setiap manusia diberi kesempatan mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal hidupnya. Tuhan berkenan menemukan dirinya."

Membayangkan kehidupan Rinai dan Ray saja sudah terasa berat, apalagi menjalaninya. Namun, di situlah letak pelajaran berharganya: kunci kebahagiaan adalah syukur. Jika banyak, ia bersyukur. Jika sedikit, ia pun tetap bersyukur. Tak ada celah bagi kesedihan untuk merenggut jiwa yang lapang.

Saya pribadi bersyukur atas napas, iman, kesehatan, rezeki, dan kebahagiaan bersama orang-orang yang saya cintai dan yang mencintai saya. Saya percaya, Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi sekitar.

 

Kedua: Apakah Hidup Ini Adil?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan abadi. Dari zaman batu hingga peradaban digital, dari muda hingga tua, dari raja hingga rakyat jelata setiap insan setidaknya pernah sekali melontarkan tanya yang sama. Dalam novel, pertanyaan ini lahir dari sepucuk koran tua yang menguning, hanya tersisa separuh. Separuh lainnya tetap menjadi misteri.

Saat cobaan datang, kita sering kali begitu cepat menjawab, "Hidup ini tidak adil." Lalu timbul pertanyaan lebih berbahaya: "Apa salahnya menjadi penjahat?"

Namun, ada satu bagian yang paling menarik bagi saya, tepat di halaman 192:

"Apakah hidup ini adil, Ray? Entahlah. Aku juga pernah sekali-dua kali bertanya kepada Tuhan. Padahal kau tahu, aku memiliki kesempatan untuk melihat wajah keadilan yang tidak kasatmata. Kita selalu berprasangka buruk. Kita membiarkan hati yang mengambil alih, menduga-duga. Tidak puas menduga-duga, kita membiarkan hati mulai menyalahkan. Mengutuk semuanya. Kemudian tega sekali, menjadikan kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku keliru kita."

Menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah—bukan karena jawabannya tidak ada, melainkan karena terlalu banyak alasannya. Namun satu hal yang pasti: bentuk keadilan langit tidak akan pernah kita pahami secara sempurna. Kita hanya perlu berharap sedikit, memberi banyak, dan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan dengan hati lapang.

 

Ketiga: Apakah Makna Kehilangan?

Ketika tidak ada rasa cinta dan rasa memiliki, sesungguhnya kita tak akan pernah kehilangan. Pertanyaan ini sulit dijawab sangat sulit jika kita memaksakan diri memahaminya dari sisi orang yang ditinggalkan. Namun ia menjadi sederhana jika kita berani melihat dari sisi yang pergi.

Saya pertama kali merasakan getaran emosi ini ketika membaca bagian Gerbong Makan Sejuta Cinta. Di sanalah Ray pertama kali mengenal gadis itu cinta pertamanya, cinta yang membuat sekujur tubuhnya merinding, cinta pertama sekaligus cinta terakhir. Ada kalimat yang membuat jantung saya berdegup:

"Dia menoleh. Dia baru saja menoleh ke arahku. Oh ibu, apa maksudnya? Suara itu merdu..."

Frasa "Oh Ibu" menjadi sesuatu yang istimewa dan magis dalam novel ini.

Namun, keindahan itu perlahan berubah menjadi duka yang menghancurkan. Di halaman 263, saya benar-benar terharu. Air mata perlahan mengalir membasahi pipi ketika membaca kisah istri Ray yang dua kali keguguran, hingga akhirnya kehilangan sang istri untuk selamanya. Sungguh kesedihan yang amat dalam.

"Orang-orang yang memiliki tujuan hidup, tahu persis apa yang hendak dicapainya, maka baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Dan sebaliknya."

"Hanya orang-orang dengan hati damailah yang boleh menerima kejadian buruk dengan lega."
— Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Kehilangan bukanlah akhir. Ia adalah pintu untuk memahami bahwa yang pergi mungkin sedang menuju kedamaian yang lebih abadi.

 

Keempat: Apakah Itu Cinta?

Pada bagian ini, Tere Liye menyuguhkan metafora yang begitu indah melalui suara alam:

  • Gunung menjawab: "Kecupan hangat matahari pada pundakku di pagi hari."
  • Pesisir menjawab: "Kunjungan ombak yang tak pernah berhenti menenggelamkan pasirku dengan kehangatan."
  • Danau menjawab: "Cinta adalah menatap Purnama dari kejauhan, dengan kerinduanku yang terabaikan, dengan perasaanku yang tak dia inginkan..." Danau terdiam sebentar, lalu tersenyum. "Namun tetap merasa bahagia karena masih bisa menyaksikan keindahannya."
    — Reza Rusandi

Semua hal bisa didefinisikan, kecuali cinta. Karena cinta adalah sumber dari segala definisi. Ia adalah energi utama yang menghidupkan kita. Seperti kata Rocky Gerung, "Cinta itu energi paling purba dari kehidupan. Nafas mungkin lebih pendek dari cinta, karena cinta lebih purba dari nafas. Cinta tidak berakhir saat nafas berhenti."

Ada pula analogi indah tentang penciptaan perempuan: Perempuan tidak diciptakan dari tengkorak laki-laki agar berada di atas, juga tidak dari kaki laki-laki agar diinjak. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk di sisi laki-laki, dekat dengan hati agar dicintai, dan dekat dengan tangan agar dilindungi.

Bagi Ray, hidup hanya sekali, mati sekali, maka jatuh cinta hanya sekali. Cintanya pada istrinya (si Gigi Kelinci) adalah cinta yang membahagiakan. Namun, cinta dari Gadis Anggrek Putih yang mencintainya sepenuh hati justru menjadi cinta yang membunuh. Sang anggrek harus layu di waktu dan tempat yang salah. Kehidupan Ray terasa kosong meski dikelilingi niat tulus dan kehangatan orang lain.

Satu hal sederhana namun bermakna dari istri Ray: "Bagiku, kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup." Sederhana, tapi sarat makna.

 

Kelima: Kenapa Harus Mengalami Sakit Berkepanjangan Selama Enam Tahun?

Si Anggrek Putih dari Timur dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Selama dua tahun, Vin (Anggrek Putih) menghilang tanpa kabar dan ternyata, kesunyian bisa membunuh. Vin memilih mengubur semua mimpi, harapan, dan cinta yang tak terbalas, sampai akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Gadis malang yang menyia-nyiakan masa mudanya.

Enam tahun setelah kremasi Vin, Ray- yang kini memiliki imperium bisnis menggurita-justru mulai sakit-sakitan. Serangan jantung, penyakit ginjal, kaki lumpuh, dan mulut yang membisu. Harta melimpah tak berarti apa-apa ketika raga terus merana. Ray, yang dulu perkasa, kini tak berdaya dibelit infus dan selang-selang medis.

Di pertanyaan terakhir inilah sang malaikat memberi jawaban yang menyudahi segala tanya. Ray akhirnya menemukan pemahaman utuh atas rangkaian takdir yang ia alami. Roda kehidupannya benar-benar telah berputar.

Saat Ray menatap rembulan dari puncak Gedung 101 (yang dalam imajinasi saya tergambar bak Burj Khalifa), ia berbicara kepada alam dan merelakan semua yang telah terjadi.

 

Penutup: Apa Lima Pertanyaanmu?

"Andai kata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti ada sepotong bagian yang menyenangkan..."

Novel ini adalah pengingat bahwa ilmu kita terbatas, pengetahuan kita sempit. Kita tidak akan pernah mengerti sepenuhnya mengapa sakit, kehilangan, dan ketidakadilan terjadi. Namun kita yakin jika tidak di kehidupan ini, maka suatu saat nanti akan ada keindahan yang jauh lebih memesona daripada sekadar menatap rembulan yang bersinar.

Pantaskah Tere Liye begitu terkenal? Sangat pantas. Karyanya luar biasa. Fakta menarik: Tere Liye ternyata adalah nama pena dari Darwis, pria di balik lautan kata yang mengguncang jiwa.

Sekarang, coba tutup mata sejenak. Heningkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia. Bayangkan ada satu malaikat bersayap indah datang menghampiri, lalu berkata lembut: "Aku memberimu lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung."

Apa pertanyaanmu?

 

Post a Comment for "Andai Kata Semua Kehidupan Ini Menyakitkan: Lima Pertanyaan yang Mengubah Hidup"