MEMAKNAI KEBAHAGIAAN
Kebahagiaan merupakan unsur
penting dalam hidup manusia. Segala apa yang dilakukan manusia pada hakikatnya
menuju kebahagiaan. Memang harus diakui, manusia sering sulit membedakan antara
alat dan tujuan, sehingga manusia kadang-kadang terlalu mengagungkan alat dan
lupa akan tujuan yang sebenarnya. Sebagai contoh, manusia sering terlalu bangga
akan canggihnya teknologi. Akibatnya, sering manusialah yang diperhamba
teknologi, bukan sebaliknya, memperhamba teknologi.
Secara umum tujuan akhir manusia
adalah mencapai kebahagiaan. Kita perlu menekankan istilah “akhir” karena sebelum menuju kesana, banyak sasaran
yang dicapai, seperti kesuksesan dalam bidang yang digelutinya. Dengan demikian,
apapun yang dicapai manusia itu, seperti berbagai kecermelangan, hanyalah
unsur-unsur yang mendukung pencapaian tujuan akhir manusia itu, yakni
kebahagiaan.
Sebagai konsekwensi
logisnya, sebelum manusia berhasil mencapai kebahagiaan sebagai tujuan
akhirnya, manusia senantiasa gelisah, tertekan dan merasa ada sesuatu yang
kurang dalam dirinya. Misalnya saja kita buat satu contoh: Lulus kuliah tapi
belum dapat kerja, sehingga membuat perilaku menjadi tidak percaya diri, merasa
malu (malu terhadap keluarga), tidak bisa melakukan apa-apa dan bahkan bisa stress.
Lalu apa sesuatu yang kurang dalam kondisi belum tercapainya kebahagiaan itu? Jawabannya
adalah kebaikan. Hal ini terjadi, karena manusia hanya akan merasa bahagia jika
keinginannya untuk memiliki kebaikan (sesuai dengan kata hati) benar-benar
tercapai. Dengan demikian kebahagiaan bukanlah ruang yang kosong, tetapi ruang
yang terisi dengan kebaikan. Sifat seperti ini merupakan kharakteristik manusia
sebagai makhluk yang berakal budi.
Jika kita meminjam terminologi
psikologi, yang menyatakan bahwa seluruh tindakan (bukan sekedar aktifitas)
manusia didasarkan pada motif tertentu, maka motif tersebut adalah kebahagiaan.
Dengan demikian, kebahagiaan menjadi alasan bagi setiap orang dalam merancang
dan melakukan suatu tindakan. Dalam konteks ini terdapat unsur universal dan
spesifik dalam diri manusia sehubungan dengan pencapaian kebahagiaan sebagai
tujuan. Unsur universal adalah semua manusia bertujuan akhir mencapai
kebahagiaan. Sedangkan unsur spesifiknya adalah apa yang menjadi kebahagiaan
bagi manusia memiliki perbedaan dan sifatnya boleh bersifat kelompok, namun
yang paling dominan adalah sifat individualnya.
Lebih jauh lagi, manusia senantiasa
ingin mencapai suatu kebahagiaan yang sempurna menurut inovasinya. Oleh karena
itu kebahagiaan itu bersifat dinamis. Dinamika kebahagiaan itu meliputi
kelompok dengan kelompok dan masa dengan masa. Kondisi ini merupakan
konsekwensi logis dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang memiliki
kebutuhan tidak terbatas. Akibatnya, ada pihak yang berpendapat bahwa
kebahagiaan itu tidak sempurna. Jika ada kebahagiaan yang sempurna, maka pada
hakikatnya yang sempurna itu tidak mungkin dicapai, Atau bagaimana menurutmu???

Aku, bisa napas aja udah bahagia kok hehee
ReplyDeletehaha samaa
Delete